YOGYAKARTA – Menanggapi situasi geopolitik dunia yang tidak menentu, DPD PKS Kota Yogyakarta meluncurkan kampanye strategis bertajuk Gerakan Ketahanan Energi dan Pangan. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi dampak krisis global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi di tingkat lokal, khususnya di wilayah perkotaan.
Ketua DPD PKS Kota Yogyakarta, Triyono Hari Kuncoro, menjelaskan bahwa gejolak internasional saat ini memberikan ancaman nyata terhadap rantai pasok kebutuhan pokok dan harga energi. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk mulai mandiri secara mandiri menjadi sangat krusial.
Pemanfaatan Lahan Sempit dan Energi Terbarukan
Mengingat keterbatasan lahan di Kota Yogyakarta, PKS mendorong warga untuk mengoptimalkan konsep pertanian perkotaan (urban farming). Beberapa poin utama yang dikampanyekan antara lain:
- Ketahanan Pangan: Mengajak warga menanam kebutuhan pangan harian seperti sayuran, cabai, dan tanaman obat di pekarangan rumah menggunakan metode vertikultur atau hidroponik.
- Efisiensi Energi: Mengedukasi masyarakat mengenai penghematan energi listrik dan mulai melirik potensi energi alternatif yang ramah lingkungan.
- Kemandirian Ekonomi: Dengan memproduksi pangan secara mandiri, beban pengeluaran rumah tangga diharapkan dapat ditekan di tengah fluktuasi harga pasar.
Edukasi Melalui Struktur Ranting
Gerakan ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana. PKS Kota Yogyakarta akan menggerakkan struktur partai hingga tingkat terbawah (DPRa) untuk memberikan pendampingan praktis kepada warga.
“Kami ingin menjadikan isu global ini sebagai pemantik bagi warga Jogja untuk lebih tangguh. Ketahanan sebuah negara dimulai dari ketahanan pangan dan energi di level terkecil, yaitu keluarga,” ujar Triyono.
Melalui program ini, PKS berharap masyarakat Kota Yogyakarta tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi mampu beradaptasi dan tetap berdaya menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang mungkin muncul akibat dinamika politik internasional di masa depan.
